BERZIARAH KE MAKAM DIGITAL
- Nisita Hapsari

- Feb 3, 2021
- 3 min read
Turut berdukacita..
Deep condolences :((
Belum sempat bertemu kembali, semoga @***** ditempatkan di tempat terbaik ya
Rest in peace @*****

(a) Dinding memorial di laman Facebook

(b) Akun memorial di laman Instagram
Bukan hanya memuat peristiwa-peristiwa suka, media sosial turut mewadahi penggunanya untuk menyampaikan duka. Facebook dan Instagram bahkan memiliki kebijakan khusus bagi akun yang pemiliknya sudah tiada. Keluarga atau ahli waris yang telah ditunjuk dapat me-nonaktif-kan atau menjadikan akun mendiang sebagai halaman memorial. Tentunya, izin tersebut diberikan setelah bukti kematian yang valid diajukan. Pengaturan ini diberlakukan untuk menghindari penyalahgunaan informasi akun.
Tiap harinya diperkirakan 8.000 pengguna Facebook meninggal dunia. Di tahun 2012, 8 tahun setelah platform Facebook diluncurkan, terhitung 30 juta pengguna telah tutup usia. Jumlah ini berarti setara 3% dari pengguna sosial media tersebut di tahun yang sama. Akun-akun semacam diperkirakan akan semakin banyak dan mendominasi di akhir abad ke-21.
Jejak daring yang ditinggalkan bisa jadi sesuatu yang bermakna bagi kerabat yang mengenal. Setiap peristiwa yang terekam dalam profil tersebut merepresentasikan individu yang menciptakannya. Warisan digital pribadi dapat menjadi warisan budaya dalam tahun-tahun mendatang (Cameron dan Kenderdine, 2007). Bukan tidak mungkin untuk sejarawan menemukan bukti yang berharga di masa depan ketika membongkar kembali akun-akun peninggalan ini (Brügger dan Schroeder, 2017; Pitsillides et al., 2012; Roland dan Bawden, 2012). Atau, generasi berikut dapat melihatnya sebagai bagian dari catatan dan pemahaman diri seorang individu. Laman-laman tersebut telah menjadi monumen digital untuk mengenang yang bersangkutan.
Bahkan, Facebook memberikan notifikasi pada hari peringatan tertentu. Data digital tidak membiarkan penggunanya untuk lupa. Banyak yang kemudian memanfaatkan fasilitas ini untuk membagikan ulang memori bersama ke beranda media sosial. Tak jarang, dinding penghormatan maya tersebut dipenuhi dengan ungkapan duka. Sudah menjadi kewajaran untuk menyampaikan doa secara daring dan rasanya memang belum afdol jika belum berpartisipasi dalam keprihatinan massal. Beberapa pengunjung nisan digital juga tak lupa menandai akun mendiang dalam komentar. Seakan, yang bersangkutan dapat membaca langsung pesan yang disampaikan.
Tidak ada yang salah dari mengekspresikan duka dan berusaha saling menguatkan. Kebutuhan untuk mendapat dukungan moral adalah hal yang wajar. Tidak ada yang salah dari membagi kenangan baik dan terus menyambung inspirasi bagi yang melanjutkan hidup. Tapi, bukan berarti dengan mengumbar keprihatinan, kemudian menciptakan wadah berekspresi yang semakin sehat. Fenomena ini menjadi salah satu bibit tumbuhnya tren sadfishing.
Pertama kali digunakan oleh penulis Rebecca Reid, sadfishing adalah istilah untuk menggambarkan perilaku seseorang yang membuat pernyataan emosional berlebihan demi menarik simpati. Alih-alih tersampaikan pada keluarga yang butuh dikuatkan, ungkapan-ungkapan duka tersebut bisa jadi malah menjadi bumerang. Dikutip dari Covesia, dr. Lidya Heryanto, SpKJ menyatakan bahwa sadfishing justru dapat memicu timbulnya emosi kesedihan serupa pada audiens yang membaca.
Kerentanan semacam ini menjadi riskan dimanfaatkan oleh media dalam kejadian tertentu. Seperti dalam kasus Sriwijaya di akhir tahun 2020, beberapa media menggunakan framing dari kisah-kisah keluarga dan tokoh yang dikenal publik demi mengundang keprihatinan. Unggahan seorang figur, bahkan cerita yang tertangkap di kolom komentar, bisa menjadi bahan yang menarik untuk mengaduk emosi. Padahal, tidak etis rasanya untuk terus menerus mengumbar hal yang sensitif seperti ini. Ada keluarga yang sungguh-sungguh mengalami trauma dalam kejadian tersebut.






Beberapa media membahas sisi emosional dalam kasus Sriwijaya Air SJ182
Memang benar sosial media telah menjadi sasaran utama yang lumrah untuk membagikan berita atau bebas berekspresi. Di era digital ini, platform-platform daring telah berhasil mendekatkan komunitas melalui sekali klik di dunia maya. Tetapi, menilik kembali misi penghiburan yang diemban ketika menuliskan ungkapan duka di sosial media, apakah benar ditujukan untuk keluarga yang ditinggalkan atau malah salah sasaran?
Mungkin kondisi saat ini tidak memungkinkan bagi kita untuk menyampaikan keprihatinan dan menguatkan keluarga mendiang secara langsung. Namun, ujian jarak seharusnya tidak membuat siapa pun lupa perihal apa-apa yang menjadi prioritas. Memberi penghargaan terakhir atau mencari pengakuan adalah sepenuhnya dalam kendali si penabur bunga yang hadir berziarah.


I read the post about the embroidery exhibition corner display and it really shows how each small stitched piece carries time, care, and quiet beauty, almost like a story built thread by thread. The way the artist creates soft textures and calm scenes through slow work felt very meaningful to me. Last semester when I was overwhelmed with readings, I had to take my online Philosophy class help service so I could finish early and still visit a small art display like this. That moment showed me how art and reflection can bring a sense of calm into busy life.
I found this article really thoughtful, especially how it explains digital memorials and how people share grief online. It made me think of when I saw many posts after a loss, and I also felt unsure how to react. Around that time, I was stressed with studies and even used buy dissertation papers, which made me reflect more on my own actions online. In the end, it reminds me that intentions matter when expressing emotions.